Rencana Kurikulum 2013

KURIKULUM PENDIDIKAN 2013

(Apakah benar-benar “penting dan genting” ataukah

sekedar program “ganti menteri- ganti kurikulum”?)

Oleh : Bayu Widiyanto

Abstraksi

Pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup, karena merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum disusun untuk mendorong anak berkembang ke arah tujuan pendidikan. Penyusunan kurikulum dibuat dan diperbarui dengan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi zaman. Menurut  Mendikbud (Mohammad Nuh), kurikulum sekarang perlu disempurnakan mengingat urgensi rasionalitas yang kuat, yaitu “penting dan genting”. Rasionalitas “penting” mengingat inilah momentum yang tepat untuk mempersiapkan generasi 100 tahun Indonesia merdeka dengan memaksimalkan  potensi bonus demografi yang relatif tinggi. Rasionalitas “genting” mengingat kurikulum harus disesuaikan  dengan perubahan zaman. “Tujuannya kita inginkan yaitu membuat manusia yang bermartabat, berbudaya, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat”. Namun banyak kalangan masyarakat terutama pendidik mempertanyakan apakah pembaruan ini cukup urgen atau sekedar program “ganti menteri- ganti kurikulum”.  Melalui uji publik bahan kurikulum 2013 banyak isu-isu / permasalahan yang berkembang yang diharapkan menjadi masukan yang menentukan apakah kurikulum baru 2013 akan diterima atau ditolak.

Kata kunci : Kurikulum 2013, pendidikan

Latar belakang pentingnya perubahan kurikulum

Pendidikan ditujukan pada meningkatkan dan mengembangkan kualitas peserta didik, sebagai sumber daya manusia yang akan mengisi pembangunan nasional. Menurut Mendikbud “proses pendidikan yang dilakukan sekarang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan pada waktu yang akan datang. Karena jaman itu nanti berubah, jadi perubahan harus dimulai dari sekarang. Kalau kita tidak berubah kita akan menghasilkan generasi yang usang. Generasi yang akan menjadi beban, dan juga tidak terserap di dunia kerja”. Perubahan kurikulum meliputi perubahan komponen di dalamnya yaitu standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan.

Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Kurikulum dikembangkan sesuai kondisi jaman. Di Indonesia perkembangan kurikulum mengalami beberapa perubahan beserta tahunnya yaitu sebagai berikut :

  1. 1947 : Rencana Pelajaran → Dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai
  2. 1964 : Rencana Pendidikan Sekolah Dasar
  3. 1968 : Kurikulum Sekolah Dasar
  4. 1973 : Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)
  5. 1975 : Kurikulum Sekolah Dasar
  6. 1984 : Kurikulum 1984
  7. 1994 : Kurikulum 1994
  8. 1997 : Revisi Kurikulum 1994
  9. 2004 : Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
  10. 2006 : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)[1].

Alasan pengembangan Kurikulum 2013

Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Kompetensi ini didukung 4 pilar yaitu : produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Sejumlah hal yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah :

a)    Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran;

b)    Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran [KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan];

c)    Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat, dan walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial 1.

Tiga faktor lainnya juga menjadi alasan Pengembangan Kurikulum 2013 :

  1. Tantangan masa depan diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
  2. Kompetensi masa depan yang antaranya meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.
  3. Fenomena sosial yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest). Yang keempat adalah persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter 1.

Permasalahan Kurikulum 2006

Selain alasan di atas faktor yang melatarbelakangi pengembangan kurikulum 2013 yaitu dikatakan bahwa pada kurikulum sebelumnya (kurikulum 2006) memuat sejumlah permasalahan di antaranya:

  1. Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
  2. Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional;
  3. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan;
  4. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum;
  5. Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global;
  6. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru;
  7. Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan
  8. Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir 1.

Apa perlu adanya blue-print kurikulum jangka panjang?

Dari penjelasan di atas menyebutkan alasan dibentuknya kurikulum baru cenderung dikarenakan kesalahan dari kurikulum sebelumnya. Hal ini menunjukkan kurang ada kesinambungan. Seharusnya kurikulum terbaru harus melengkapi dan memperbaiki kurikulum sebelumnya, bukan malah menjatuhkan. Lebih baik lagi ada semacam blue-print kurikulum jangka panjang yang memiliki visi misi yang sama namun tetap dinamis terhadap perubahan jaman. Namun Mendikbud menyatakan “tidak ada blue-print kurikulum, tidak ada ceritanya kurikulum yang 50 tahun tidak berubah, bahkan yang 20 tahun tidak berubah itu tidak ada. Jaman itu berubah. Apa perubahan mendasar yang dibutuhkan di masa depan? Yang paling dibutuhkan di masa mendatang (termasuk sekarang juga dibutuhkan) yaitu kreatifitas. Ke depan kita butuh anak-anak yang kreatif”[2].

Apakah kurikulum sebelumnya sudah dievaluasi secara mendalam?

Penurut Koordinator FKPPRI Darmin Mbula pada Senin (17/12/2012). “Belum ada riset dan evaluasi  yang mendalam dan sungguh-sungguh tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), baik berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi maupun Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan”. Kurikulum model KTSP yang dikembangkan berdasarkan pedoman dan rambu-rambu yang ditetapkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) menghargai otonomi guru dan sekolah serta keanerakagaman budaya dan konteks setempat.

Kurikulum model KTSP memberi peluang bagi guru dengan harapan model KTSP dapat menjadi pedoman bagi  guru dalam menyusun silabus yang sesuai dengan kondisi sekolah dan potensi daerah masing-masing. Sedangkan kurikulum 2013 jelas tidak menghargai otonomi guru, sekolah, dan daerah. Kurikulum 2013 amat sentralistik, bertentangan dengan semangat reformasi yang menghendaki desentralisasi, yaitu desentralisasi pengelolaan pendidikan agar dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan kondisi daerah. Kurikulum 2013, baik perencanaan maupun penyusunan silabus serta penyusunan dan penerbitan buku pelajaran ditentukan dan dilakukan oleh Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sentralisasi).

Hal ini berdampak pada deprofesionalisasi guru dan mengabaikan konteks sosial budaya dari komunitas lokal yang amat ditekankan oleh model KTSP (2006).  Penyusunan Kurikulum 2013 tidak berdasarkan kajian yang mendalam dan transparan terhadap situasi yang  menjadi alasan kuat perlunya kurikulum 2013. Rumusannya amat sangat normatif berdasarkan spekulasi tanpa dukungan hasil riset dan ujicoba inovasi di lapangan[3].

Uji publik kurikulum 2013

Uji publik pada kurikulum 2013 ini merupakan sesuatu yang baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Uji ini dilakukan dengan mengup-load bahan uji publik kurikulum dalam website dengan alamat http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id. Waktu uji publik yaitu selama 3 minggu dan berakhir tanggal 23 Desember 2012. Tujuannya uji publik yaitu pertama supaya publik tahu akan ada kurikulum baru, kedua publik dapat berpartisipasi sehingga ada rasa memiliki atau self-belonging. Dalam partisipasi ini siapa saja boleh memberi pandangan pada tiap komponen kurikulum yang terdiri dari kompetensi lulusan, isi, proses, dan penilaian. Setelah uji publik mendapat masukan selanjutnya oleh tim pakar akan direview.

Masukan dan Pendapat Masyarakat Dalam Uji Publik

Melalui uji publik rencana Kurikulum 2013 yang sempat menimbulkan polemik, pro dan kontra. Semua lapisan masyarakat bisa memberikan masukan dan pendapat untuk menyempurnakan kurikulum. Berikut beberapa masukan dan pendapat yang sering dimunculkan dalam uji publik:

ü  Jumlah mata pelajaran dalam kurikulum 2013 dikurangi dengan maksud mengurangi beban belajar siswa, namun muatannya berlipat ganda karena mengikuti alur pikiran kompetensi inti dan jumlah jam pelajaran per minggu ditambah. Dampaknya adalah beban belajar siswa semakin berlipat ganda.

ü  Selain itu, rumusan kompetensi inti tidak berdasarkan kajian mendalam dan hasil riset dan inovasi. Hubungan antara kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran tidak koheren sehingga berdampak meningkatnya kepadatan kompetensi dan materi pada tiap mata pelajaran.

ü  Kurikulum Baru, SMA Tidak Ada Penjurusan. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh, pelajar SMA tidak lagi dibingungkan dengan adanya penjurusan eksakta, sosial, maupun bahasa. “Anak-anak akan dibebaskan memilih pelajaran yang disukai,” kata Mendikbud.

ü  Beberapa mata pelajaran dilebur dengan yang lain, dibuat lebih integrasi dan holistik. Untuk mata pelajaran SD yang semula 10 menjadi 6, sedangkan SMP dari 12 menjadi 10. Di lain pihak, pelajar SMA dibebaskan memilih pelajaran yang disukai.

ü  Hilangnya beberapa mata pelajaran seperti bahasa daerah akan menjadikan hilangnya kekayaan warisan budaya daerah dan kearifan lokal sebagai identitas bangsa.

ü  Hilangnya mapel. TIK (teknologi Informasi dan Komunikasi) menjadikan peserta didik lebih “gaptek”, walaupun dikatakan akan diintegrasikan pada semua mapel. Tetapi apabila tidak difasilitasi sama saja pengetahuan tentang TIK tidak terarah, hal ini sangat bertentangan dengan tantangan zaman yaitu isu globalisasi.

ü  Bimbingan dan Konseling tampaknya masih termarjinalkan karena sama sekali tidak disinggung keberadaan Bimbingan dan Konseling. Hal ini malah hendak meniadakan Pengembangan Diri  yang di dalamnya terdapat Bimbingan dan Konseling.

ü  Hilangnya mapel. IPA terpadu (misal yang sebelumnya diajarkan di tingkat SMK di semua program keahlian pada tiap tingkat semester sekarang rencana dihilangkan sama sekali) sangatlah bertentangan dengan tantangan masa depan yang dijelaskan di awal yaitu berkaitan tentang isu kerusakan lingkungan (pemanasan global, pencemaran, dll.) yang menjadi isu global yang sedang dibahas oleh semua negara.

ü  Hilangnya atau dihapusnya mapel-mapel tersebut pada hakikatnya tidak bisa digantikan dengan mapel yang lain. Selain itu juga akan menyebabkan permasalahan baru yaitu bagaimana tugas mengajar dari guru-guru yang dihilangkan mapelnya, tidaklah baik kalau semisal guru bahasa jawa mengajar  bahasa inggris, betul kan? Selain itu harus dikaitkan juga dengan Perguruan Tinggi yang membuka jurusan yang mencetak pengajar pada mapel yang dihilangkan, apakah jurusan tersebut harus ditutup? Semuanya perlu dipertimbangkan.

Apakah Kurikulum 2013 sudah memadukan Kerjasama Tripartit?

Kerjasama atau hubungan tripartit adalah hubungan tiga pihak antara pemerintah, lembaga pendidikan dan dunia usaha. Hal ini sangatlah penting dan saling terkait, lembaga pendidikan akan mencetak tenaga kerja yang akan bekerja di dunia usaha dan pemerintah. Oleh karena itu pemerintah dan dunia usaha juga harus berperan dalam penyusuna kurikulum di suatu lembaga pendidikan terutama di tingkat perguruan tinggi dan SMK. Hal ini harus terus dihidupkan dan disinergikan, dalam rangka memenuhi ketersediaan lapangan kerja dan menghindari banyaknya pengangguran intelektual

Ganti kurikulum = pemborosan anggaran?

Ada sejumlah pendapat masyarakat yang mengritisi bahwa setiap ada program baru dalam hal ini pergantian kurikulum tidak diutamakan faktor kebutuhan dan kepentingannya. Lebih-lebih ada sejumlah oknum yang memanfaatkan adanya proyek baru sebagai lahan mendapatkan penghasilan tambahan. Hai ini merupakan pemborosan anggaran devisa negara. Berikut pendapat masyarakat tentang pemborosan anggaran yang berkaitan dengan pergantian kurikulum:

a. Pemborosan dalam mempersiapkan guru

Menurut wawancara dengan Mendikbud “ujung tombak pendidikan adalah guru. Bagaimana jika guru belum siap? Kita siapkan! Dalam manajemen Pareto, itu kan ada prioritas, mencari mana lebih prioritas. Makanya kita prioritaskan mana yang penting terlebih dahulu. Implementasinya, kita siapkan skenario pentahapan. Tahapnya bisa kelas 1 SD, 4 SD, kelas 7, kelas 10 terlebih dahulu. Kalau itu kita lakukan, guru yang harus dilatih tidak sejumlah total guru, yang 3 juta. Misal guru SD saja 1,6 juta, yang kita latih sepertiga dari 1,6 juta itu, dikurangi guru agama, guru Pendidikan Jasmani, jadi cuma sekitar 300 ribu, itu masuk akal. Kita setiap tahun mengadakan sertifikasi sekitar 300 ribu 2.

b. Pemborosan dalam pengadaan buku

Selain faktor guru / pendidik yang sangat berperan ada faktor lain sebagai perangkat pendidikan yang menyesuaikan kurikulum yaitu buku-buku pembelajaran. Konsekuensi dari perubahan kurikulum maka buku-buku penunjang pembelajaran juga ikut berubah. Menurut Mendikbud boleh mengadakan buku asalkan yang penting. Penggandaan buku juga mengutamakan dua alasan penting; pertama jangan dibebankan kepada siswa atau orang tua siswa, Dananya bisa dari dana alokasi khusus (DAK), yang memang tiap tahun ada DAK pengadaan buku. Dan juga dari anggaran kita sendiri. Estimasinya kita belum tahu. Berapapun anggarannya, mau 100 milyar 100 trilyun, asal bisa dipertanggungjawabkan tidak masalah. Kedua di dalam pelaksanaannya pengadaan buku harus bisa dipertanggung-jawabkan, transparan saja. Buku masternya kita siapkan, jadi bisa diuji isinya benar atau salah. Kemudian kita tenderkan, terbuka. Dan siapapun bisa mengawasi 2.

Namun menurut peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Bidang Pendidikan yang tergabung dalam Koalisi, Febri Hendri, mengatakan sudah ada rapat kerja yang digelar antara Kementerian Pendidikan dengan sejumlah penerbit buku di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, pada 3-6 Desember 2012. Pertemuan itu membahas penyusunan modul buku pelajaran sesuai kurikulum baru 2013. Febri menilai pertemuan itu janggal. Sebab, saat ini pemerintah masih melakukan uji publik di lima kota besar dan 33 kabupaten/kota untuk menyerap masukan dari seluruh masyarakat.

“Kesimpulannya, uji publik sekadar legitimasi dan tidak serius digunakan untuk menampung ide,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 5 Desember 2012. Menurut Febri, jika memang pemerintah sungguh-sungguh ingin menyerap aspirasi masyarakat, rapat kerja dengan pihak penerbit tidak secepat ini dilakukan. ICW mengkhawatirkan bahwa konsep perubahan kurikulum sudah ada sebenarnya. Jadi, uji publik hanya untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Sudah digelarnya rapat dengan penerbit buku juga dikhawatirkan terkait potensi pasar penjualan buku setelah perubahan kurikulum[4].

Penutup

Dari hasil pemaparan sebelumnya dan ditambahkan dengan isu-isu yang berkembang maka dapat disimpulkan beberapa rekomendasi tentang  pengembangan kurikulum yaitu sebagai berikut:

  1. Penyusunan kurikulum dibuat dan diperbarui dengan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi zaman. Mengingat kurikulum merupakan salah satu komponen penting untuk mencapai tujuan pendidikan untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.
  2. Kurikulum dan segala komponen di dalamnya (standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan) harus bisa menjawab tantangan masa depan di antaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
  3. Peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) harus diimbangi dengan pendidikan karakter untuk menciptakan generasi yang unggul dan berakhlakul karimah. Sehingga terjadinya fenomena sosial yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest) dapat diminimalisir.
  4. Adanya uji publik kurikulum yang tidak sekedar legitimasi saja namun yang benar-benar menampung aspirasi masyarakat luas dalam mengembangkan kurikulum.
  5. Dalam penyusunan kurikulum harus mensinergikan hubungan tripartit antara pemerintah, lembaga pendidikan dan dunia usaha, dalam rangka memenuhi ketersediaan lapangan kerja dan menghindari banyaknya pengangguran intelektual.

Demikianlah bahasan kurikulum yang saya tulis dengan banyak sekali kekurangan. Semoga dapat menambah wacana para pembaca. Kita bersama berharap adanya pergantian akan membawa perubahan yang semakin baik. Adanya uji publik menjadikan penyusunan dan sosialisasi kurikulum lebih terbuka. Kita lihat nanti ke depan setelah adanya uji publik apakah kurikulum ini diterima dengan atau tanpa perbaikan atau benar-benar ditolak?

 

Referensi :

  1. Bahan Uji Publik Kurikulum 2013. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. http://puskurbuk.net/web/wawancara-kemdikbud-kur2013-bag2.html
  3. http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/17/11012214/Kurikulum.2013.Ditolak
  4. http://www.tempo.co/read/news/2012/12/05/079446112/Uji-Publik-Kurikulum-Baru-Dinilai-Hanya-Kamuflase

 


PROFIL PENULIS

Penulis (Bayu Widiyanto) adalah salah satu pemerhati lingkungan yang ingin menanamkan kepada masyarakat pemikiran ekosentris yang sebelumnya antroposentris. Salah satu buku favoritnya adalah “100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah karangan Michael H. Hart” cukup menginspirasi penulis untuk menjadi insan yang lebih berguna.

Penulis suka dalam kegiatan ilmiah salah satunya berkaitan dengan konservasi lingkungan hidup. Sebelumnya penulis pernah berpengalaman kerja di salah satu Konsultan AMDAL,  tetapi sekarang lebih menyukai dunia pendidikan dan profesinya sekarang adalah seorang pengajar mata pelajaran IPA dan Biologi di SMK Negeri 2 Slawi (SMK Pertanian). Di tengah kesibukannya Alhamdulillah penulis mendapat program beasiswa unggulan dari Kemendiknas untuk melanjutkan studinya di PMSIL (Program Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan) UNSOED Purwokerto. Apabila ingin menghubunginya bisa melalui email : bay_widiyanto@yahoo.com atau nomor mobile phone 085624247800.

*̮*Salam Hijau *̮*

 

About these ads

One response to “Rencana Kurikulum 2013

  1. Pingback: Rencana Kurikulum 2013 | 42umurku·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s