Konversi Nilai untuk “menDistribusi-Normalkan” Hasil Penilaian

Konversi Nilai untuk “menDistribusi-Normalkan” Hasil Penilaian
By : Ubay-dillah

nile ancurBapak dan ibu guru yang terhormat (maaf bukan anggota DPR saja yg terhormat, seorang guru juga seharusnya / sepantasnya suatu pribadi dan profesi yg terhormat ), penilaian hasil belajar merupakan bagian penting dalam kegiatan pembelajaran. Penilaian pembelajaran dilakukan sebagai evaluasi proses pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana seorang guru dapat mentransfer materi pelajaran kepada siswa? Atau sebagai introspeksi siswa sejauh mana mereka mampu menyerap pelajaran, dan sejauh mana persiapan mereka dalam menghadapi uji kompetensi.

Dalam RPP- rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian terdiri atas ujian nasional dan ujian  sekolah. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.

Mulai Kurikulum 2006 (KTSP) kita telah mengetahui bersama bahwa sekolah harus menentukan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). KKM tersebut ditetapkan dengan acuan tertentu dan tiap mata pelajaran KKMnya bisa jadi berbeda-beda. KKM ditetapkan mulai dari yang rendah (misal 65) dan tiap tahun ditingkatkan hingga mencapai KKM ideal nasional yaitu 75 atau bahkan lebih. Yang menjadi permasalahan adalah KKM meningkat namun dalam kenyataannya kondisinya sama dengan tahun sebelumnya. Fakta empiris menunjukkan bahwa untuk KKM 70 ke atas itu banyak sekolah yang belum siap, namun dipaksakan. Apalagi nilai rapor menjadi unsur perhitungan kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Apa akibatnya? terjadilah apa yang kita sebut katrol nilai.

Seperti yang kita tau dan seperti yang sudah sering dibicarakan banyak orang-orang bijak dan orang-orang so bijak bahwa “Setiap Manusia mempunyai berbagai Kelebihan dalam bidangnya masing-masing” namun dengan adanya KKM, malah menjadikan seorang pelajar sangat tertekan. mengapa? karena Siswa dipaksa oleh guru nya untuk paling tidak mencapai KKM, sedangkan pelajaran yang diikuti siswa tersebut sangat tidak sesuai dengan bakatnya. dan pada akhirnya ada 2 pilihan bagi guru, yaitu:
1. Meluluskan begitu saja anak tersebut dengan nilai mentok KKM. padahal nilai asli siswa tersebut sangat jauh dari KKM.
2. Memberikan tugas kepada siswa tersebut. tugas-tugas tersebut mulai dari menyusun makalah, kliping, beli barang (misalnya) sungguh merepotkan bukan? Supaya Pihak Guru dan Pihak Siswa tidak saling merepotkan (bila guru memberi tugas pada siswa, siswa tersebut repot untuk mengerjakannya, kemudian guru juga repot untuk memeriksanya. bukan begitu?).
Dampak yang bahaya adalah kejujuran hasil belajar /kemampuan setiap siswa seolah-olah tergadaikan. Terkadang ada siswa yg meremehkan soal nilai, “belajar ga belajar toh nanti akhirnya lulus KKM juga”.. Astaganaga.. Jadi menurut pendapat pribadi, lebih baik KKM ini dipertimbangkan lagi dan semoga tim penyusun sistem ini dibukakan mata hatinya dan ditunjukkan jalan yg lurus,,^_^

Ya sudahlah tidak usah membahas KKM trlalu panjang karena mau ga mau sistem KKM harus dilaksanakan (..aku memang pengajar biasa, yg tak sempurna ..#sambi nyanyi biar ga tegang). Sekarang yg penting bagaimana strategi menghadapi sistem ini? Penentuan KKM ditentukan 3 faktor ; input/tingkat kecerdasan siswa, daya dukung , dan kompleksitas materi. Tapi dari ketiganya faktor input siswa yg plg brpengaruh (alasan guru membela dirinya^_^). Kondisi riil di beberapa sekolah (termasuk sekolah yg sy ajar) masih dikatakan memiliki input siswa dgn tingkat kecerdasan menengah ke bawah (maaf kalo da yg trsingung) walaupun ada bbrp yg punya potensi. Ada beberapa guru yg membandingkan dengan sekolah yg diajar sebelumnya, jumlah siswa yg tidak lulus KKM kurang dr 5 tapi di sekolahku yg mnjd tmpat beliau mngjar skrg malah kebalikannya yg lulus KKM maks 5 siswa..cep-cep 2x. Yah memang knyataanya sprti itu, tp tetep jngn brlaku diskriminatif dgn mbeda bedakan siswa. Siswa yg tertinggal justru harus dibantu dgn prhatian lebih.

Nah skrg bagaimana kalau kenyataan nilai hasil Ulangan semester /UKK banyak yg tidak tuntas, padahal waktu remidiasi sangat singkat. Apabila melakukan ulangan ulang, akan menyita waktu guru untuk mengoreksi lagi dan mubadzirnya belum tentu hasilnya jd lebih baik. Maka biasanya guru memberikan tugas sesuai beban nilai siswa, artinya semakin jelek hasil nilai siswa tugasnya akan semakin banyak. Hal ini dimaksudkan memberi efek jera agar siswa benar2 mempersiapkan diri saat ulangan (dasarnya hasil tanya jawab dgn siswa menyebutkan bahwa sebagian besar siswa tidak belajar atau waktu belajarnya sangat kurang yaitu < 45 menit,,huff). Setelah tugas sdh diberikan harusnya kita tetap memproses nilai asli hasil ulangan sebagai acuan tingkat daya serap siswa secara objektif. Jangan sampai perbandingan nilai antara siswa yg paling pintar tidak jauh beda dengan siswa yang (maaf) kurang pintar. Oleh karena itu menurut saya diperbolehkan menggunakan “SISTEM KONVERSI NILAI” yg objektif.

Konversi nilai dimaksudkan membatasi range nilai sesuai batas yang kita inginkan, namun hasil konversi harus seobjektif mungkin sesuai kemampuan siswa. Saya mula2 bereksperimen dengan menggunakan rumus persamaan linear, dan selanjutnya ternyata didapatkan cara / rumus yg lebih simpel. Untuk mempelajarinya simak kedua cara berikut :
1. Cara Pertama –> Persamaan Linear
Misalkan ada 50 soal pilihan ganda, kita koreksi dulu hasil ulangan siswa hingga mendapatkan skor. Skor yang di dapat adalah jumlah soal yang dijawab benar oleh siswa  dari 50 soal yang diberikan. Lalu kita mendapatkan skor tertinggi dan skor terendah, misalnya
Skor tertinggi = 30
Skor terendah = 10
lalu bapak dan ibu guru yang terhormat kita menentukan berapa nilai tertinggi dan terendah yang bapak dan ibu inginkan,misalnya
Skor tertinggi = 30  dapat nilai 8
Skor terendah = 10 dapat nilai 6
Rumus yang kita pakai adalah  Y = aX + b
Y = nilai yang kita inginkan
X = nilai sebenarnya

Terlebih dahulu kita menentukan nilai a, dengan cara :
Nilai Tertinggi 8 = 30a + b        (30 adalah skor tertinggi)
Nilai Terendah 6 = 10a +  b  – (10 adalah skor terendah)
2 = 20a
a = 2/20
a = 1/10 atau 0,1

sekarang kita menentukan b, dengan cara :
8 = 1/10 x 30 + b  ( 1/10 atau 0,1 adalah a sedang 30 adalah skor tertinggi)
8 = 3 + b
b = 8 – 3
b = 5

Sekarang kita tinggal memasukkan ke dalam rumus Y= ax + b
sekarang kita buktikan untuk menentukan nilai konversi
Y = 0,1 x 30 + 5
Y = 3 + 5
Y= 8
Artinya siswa dengan skor 30 mendapat nilai konversi 8, bagaimana dengan yang terendah berikut perhitungannya
Y= 0,1 x 10 + 5
Y = 1 + 5
Y= 6.
Bagaimana dengan yang lain,misalkan skornya 20,dengan rumus Y = ax + b
Y = 0,1 x 20 + 5
Y = 2 + 5
Y = 7
Dalam aplikasinya dengan menggunakan microsoft exel tinggal masukan rumus persamaan linear tersebut dalam kolom formula

2. Cara Kedua –> Rumus Praktis

Awalnya saya ingin sharing dengan teman sy sebut saja Mr.E bgmn sistem konversi dngn persamaan linear sebelumnya. Eh malah dia pernah mndapatkan rumus praktis dr teman “S2 Matematikanya”, namun rumus yg kasihkan dicoba tidak berhasil. Setelah saya coba otak atik ternyata rumus praktis yg diberikan terbalik-balik. Dan setelah dibandingkan ternyata prinsipnya sama dengan cara pertama “persamaan linear” Cuma ini lebih praktis tanpa harus mencari nilai a dan b. Rumus ini cocok diterapkan pada microsoft exel. Berikut rumus praktisnya :

Nilai hasil konversi = nilai min yg diinginkn + ((kolom nilai asli- nilai min sbnrny) /(nilai maks sebenarnya-nilai min asli))x (selisih nilai maks sbenarnya -nilai min sebenarnya)

Berikut screenshoot rumus praktisnya (yg dilingkari merah):

konversi

Keterangan :

65 = nilai min yg diinginkn
B6 = kolom nilai asli
42 = nilai minimal sbnrnya
78 = nilai maks sebenarnya
42 = nilai min asli
30 = selisih nilai maks sbenarnya -nilai min sebenarnya = 95 -65

Demikian yang bisa saya sampaikan mudahan bermanfaat, jika masih kesulitan saya akan kirim file simulasi dengan format Excell melalui email anda ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s